Sabtu, 05 Maret 2011

PENDIDIKAN KELUARGA DI MATA SEORANG KI HAJAR

Oleh
Rida Wahyuningrum


A. Pendahuluan
Meskipun tanggal lahir Ki Hajar Dewantara diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional, tetapi ajarannya mulai ditinggalkan. Konsep pendidikan yang dikembangkannya di Taman Siswa pun kini terpinggirkan. Dikatakan bahwa sistim pendidikan yang diajarkan oleh pelopor bagi kaum pribumi Indonesia di jaman penjajahan Belanda itu memiliki karakteristik yang nasional. Artinya, sistim pendidikan yang cocok untuk dikembangkan untuk pendidikan nasional adalah yang sifatnya mandiri, merdeka, dan swadaya.

Berbicara mengenai sistim pendidikan, Ki Hajar Dewantara atau Raden Soewardi Suryaningrat memiliki konsep pendidikan dengan prinsip kemerdekaan atas pendidikan penjajahan. Hal ini mengakibatkan ketidaksatupadanan dalam pendapat antara pemerintah dan Lembaga Persatuan taman Siswa Yogyakarta yang dengan sangat tegas menolak Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan. Mengapa demikian?

Saat ini cukup terlihat jelas bahwa masalah pendidikan sangat bergantung pada siapa yang memegang kekuasaan. Dalam beberapa hal, kebijakan nasional dalam hal pendidikan sangat berbeda dengan konsep pendidikan yang dikembangkan Ki Hajar Dewantara. Saat ini seluruh lembaga pendidikan yang bawah persatuan Tamansiswa masih konsisten mengembangkan konsep pendidikan yang diajarkan Ki Hajar Dewantara, meskipun mereka masih banyak kendala, terutama persoalan dana. Seiring hal itu, Persatuan Taman Siswa Yogyakarta menyerukan agar kita mengajak seluruh komponen pendidikan di Indonesia untuk mengkaji bersama ajaran Ki Hajar Dewantara untuk menyelesaikan masalah pendidikan di tanah air.

Berdasarkan ulasan di atas, alangkah bijak apabila kita menengok konsep pemikiran Ki Hajar Dewantara mengenai sistim pendidikan nasional. Tulisan ini akan mengetengahkan perihal pemikiran Ki Hajar mengenai pendidikan keluarga yang menurut beliau merupakan fondasi yang tepat bagi sistim pendidikan nasional kita. Mengapa justru berawal dari keluarga? Tujuan penulisan ini adalah untuk menggambarkan bagaimana konsep pendidikan keluarga itu secara umum dan konsep pendidikan keluarga menurut Ki Hajar Dewantara.

B. Apakah itu Pendidikan Keluarga?
Kata pendidikan menurut etimologi berasal dari kata dasar didik. Apabila diberi awalan –me menjadi mendidik maka akan membentuk kata kerja yang berarti memelihara dan memberi latihan (ajaran). Sedangkan bila berbentuk kata benda akan menjadi pendidikan yang memiliki arti proses perubahan sikap dan tingkah laku seseorangatau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upayapengajaran dan latihan.

Kata keluarga dapat diambil kefahaman sebagai unit sosial terkecil dalam masyarakat, atau suatu organisasi bio-psiko-sosio-spiritual dimana anggota keluarga terkait dalam suatu ikatan khusus untuk hidup bersama dalam ikatan perkawinan dan bukan ikatan yang sifatnya statis dan membelenggu dengan saling menjaga keharmonisan hubungan satu dengan yang lain atau hubungan silaturrahim.

Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian pendidikan keluarga adalah proses transformasi perilaku dan sikap di dalam kelompok atau unit sosial terkecil dalam masyarakat. Sebab keluarga merupakan lingkungan budaya yang pertama dan utama dalam menanamkan norma dan mengembangkan berbagai kebiasaan dan perilaku yang penting bagi kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat.

Adapun bentuk-bentuk keluarga sebagaimana dijelaskan William J. Goode dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa bentuk. Pertama adalah apa yang disebut keluarga nuklir (nuclear family). Ini merupakan sekelompok keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak yang belum memisahkan diri membentuk keluarga tersendiri. Kedua adalah keluarga luas (extentended family) yaitu keluarga yang terdiri dari semua orang yang berketurunan dari kakek, nenek yang sama termasuk dari keturunan masing-masing istri dan suami. Ketiga adalah keluarga pangkal (sistem family) yaitu jenis keluarga yang menggunakan sistem pewarisan kekayaan pada satu anak yang paling tua, seperti banyak terdapat di Eropa pada Zaman Feodal, para imigran Amerika Serikat, dan Zaman Tokugawa di Jepang. Menurut ini seorang anak yang paling tua bertanggungjawab terhadap adik-adiknya yang perempuan sampai ia menikah, begitu pula terhadap saudara laki-laki yang lainnya. Terakhir adalah keluarga gabungan (joint family) yaitu keluarga yang terdiri dari orang-orang yang berhak atas hasil milik keluarga. Mereka adalah antara lain saudara laki-laki pada setiap generasi, dan sebagai tekanannya pada saudara laki-laki, sebab menurut adat Hindu, anak laki-laki sejak lahirnya mempunyai hak atas kekayaan keluarganya.

Untuk menggambarkan suatu hubungan keluarga, Jalaluddin Rahmat mengungkapkan dalam bukunya yang berjudul Keluarga Muslim dalam Masyarakat Modern bahwa biasanya sepasang suami istri memiliki tiga struktur. Pertama, sruktur komplementer atau dengan kata lain dikenal dengan keluarga tradisional. Kedua, struktur simetris atau yang sering disebut dengan keluarga modern. Ketiga, struktur pararel yang merupakan hubungan antara struktur simetris dan struktur komplementer yang kedua belah pihak tersebut saling melengkapi dan saling bergantung, tetapi dalam waktu yang sama mereka memiliki beberapa bagian dari perilaku kekeluargaan mereka yang mandiri.

Dalam buku The National Study on Family Strength, Nick dan De Frain mengemukakan beberapa hal tentang pegangan menuju hubungan keluarga yang sehat dan bahagia, yaitu: 1) Terciptanya kehidupan beragama dalam keluarga, 2) Tersedianya waktu untuk bersama keluarga, 3) Interaksi segitiga antara ayah, ibu dan anak, 4) Saling menghargai dalam interaksi ayah, ibu dan anak, dan 5) Keluarga menjadi prioritas utama dalam setiap situasi dan kondisi.

Seiring kriteria keluarga yang diungkapkan diatas, Sujana memberikan beberapa fungsi pada pendidikan keluarga yang terdiri dari fungsi biologis, edukatif, religius, protektif, sosialisasi dan ekonomis.

Dari beberapa fungsi tersebut, fungsi religius dianggap fungsi paling penting karena sangat erat kaitannya dengan edukatif, sosialisasi dan protektif. Jika fungsi keagamaan dapat dijalankan, maka keluarga tersebut akan memiliki kedewasaan dengan pengakuan pada suatu sistem dan ketentuan norma beragama yang direalisasikan di lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.

C. Pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang Pendidikan Keluarga
Dalam buku Karya K.H. Dewantara Bagian Pertama: Pendidikan , dikatakan bahwa kita seringkali tertipu oleh keadaan dan keperluan asing. Hal ini beriur pada mahalnya biaya hidup, termasuk biaya pendidikan. Menurut beliau perbandingan biaya antara pendidikan sistim nasional dan sistim asing antara 1 banding 5. Ini berarti kalau anggaran belanja untuk mengadakan dan mengelola sebuah sekolah tingkat rendah (baca S.R) akan cukup untuk mendirikan 5 rumah sekolah yang sepadan dengan sekolah rendah model Eropa. Masalahnya, mereka yang berkecimpung dalam pendidikan (baca Taman Siswa) tidak berkuasa dalam politik sehingga mereka hanya bergerak dalam bidang pengajaran saja.

Sehubungan dengan hal tersebut, Ki Hajar Dewantara menyebut sistim pondok dan pawiyatan akan cocok dengan usaha pengajaran nasional. Mengapa demikian?
Secara historis, rakyat telah memiliki rumah pengajaran yang juga menjadi rumah pendidikan. Kalau jaman sekarang ada istilah pondok pesantren sedangkan dulu lebih dikenal dengan nama pawiyatan atau asrama. Adapun sifatnya pesantren atau ponsok dan asrama yaitu rumahnya guru (kyai). Pesantren memiliki konsep pendidikan agama yang lebih dominan, sedangkan asrama atau pondok tidaklah demikian. Dalam asrama diajarkan pula pelbagai macam ilmu seperti agama, ilmu alam, falak, hukum, bahasa, filsafat, seni, keprajuritan dan lain-lainnya.

1. Pendidikan dengan Sistim Pondok
Pendidikan atau pengajaran dengan sistim pondok menurut Ki Hajar Dewantara akan memberi manfaat yang besar. Pertama adalah manfaat pembiayaan yang jelas lebih murah disbanding sistim asing. Mengapa demikian? Pondok nasional itu rumahnya sang guru dan pembantu-pembantunya dan dipergunakan juga untuk pondoknya murid-murid dan untuk rumah sekolah. Uang sekolah dan belanja makan serta uang pemondokan murid-murid bisa dijadikan biaya sehari-hari untuk keperluan hidupnya guru-guru. Hanya saja, hidup di dalam pondok atau pawiyatan itu tidaklah semewah seperti halnya hidup secara priyayi atau orang kaya. Tentu saja diperlukan pengorbanan untuk dapat masuk dan berbaur dalam kehidupan pawiyatan.

Kedua, dengan cara pondok dunia kesiswaan atau dunia pendidikan dapat didirikan. Dengan sistim pawiyatan seperti itu kebersamaan antara murid dan guru akan lebih dekat dalam kesehariannya dan tentu saja dapat dikatakan murid-murid dapat terdidik dengan sempurna. Ini mengacu pada apa yang dikatakan Ki Hajar sebagai mendidik menurut pedagogik yang hidup, bukan mendidik menurut buku-buku pedagogik.

Sebagai bagian utama dari pendidikan keluarga, orang tua hendaknya mencarikan pondok yang baik untuk anak-anaknya ketika dirasa tuntutan untuk jaman pendiidkan “internat”/pondok. Hal ini amatlah penting karena pengaruh pendidikan “internat” yang umumnya menurut tata cara Eropa sering mendatangkan bahaya. Disaranakn kepada orang tua agar memilih pondokan yang berdiri di bawah pengawasan ahli-ahli pendidikan atau orang-orang yang di tempat itu dihormati oleh rakyat. Pondokan yang baik adalah pondokan di mana anak-anak dianggap sebagai anggota keluarga, jangan sebagai “orang menumpang makan” belaka. Dengan demikian anak-anak akan tahu bagaimana caranya hidup dalam keluarga dan mereka lalu kenal pada segala adat istiadat yang berlaku di dalam kehidupan masyarakatnya.

Dari sinilah Perguruan Taman Siswa dilahirkan sebagai model perguruan yang berbentuk keluarga baik dalam sifat batinnya maupun bentuk lahirnya. Adapun isi dan iramanya harus disesuaikan dengan jamannya. Sistim pondok Taman Siswa memiliki dasar-dasar sistim pondok itu sendiri, yaitu: azas kemerdekaan diri, sendi pondok-asrama, peraturan tata tertib-damai, dan menempatkan keluarga sebagai pusat pendidikan.

Azas kemerdekaan diri memberikan penguatan terhadap pentingnya bertindak dan berpikir sesuai aturan yang berlaku, tidak seenaknya. Dengan kata lain, berpikir yang cerdas sebelum melakukan tindakan.

Sendi pondok-asrama menggambarkan bagaimana struktur sistim pondok diberlakukan yang tentu saja pondok adalah rumah guru dan murid dan sekaligus tempat belajar dan mengajar.

Akhirnya, tata tertib-damai diberlakukan sedemikian rupa agar pengelolaan sistim pondok dapat berjalan dengan baik sesuai dengan struktur yang sudah ditata.

2. Pendidikan Keluarga dan Pengaruhnya
Pengaruh hidup keluarga itu terus menerus dialami oleh anak-anak lebih-lebih pada usia antara 3.5 sampai 7 tahun. Masa itu disebut dengan “masa peka”. Dalam masa ini budi pekerti tiap-tiap orang adalah pembawaan atau pengaruh dari segala pengalamannya pada waktu kecilnya di rentang usia tersebut, di dalam hidup keluarganya masing-masing.

Hal yang keliru apabila ada pendapat bahwa sudah cukup jika anak-anak itu disekolahkan. Dikiranya tidak perlu lagi di dalam rumah keluarga diadakan syarat-syarat pendidikan. Segala-galanya seolah-olah diserahkan secara borongan kepada guru sekolah. Di sinilah konsep pendidikan keluarga menurut Ki Hajar adalah besar manfaatnya.

Ki Hajar memberi batasan pada pengertian “keluarga” sebagai kumpulnya beberapa orang yang karena terikat oleh satu turunan lalu mengerti dan merasa berdiri sebagai satu gabungan yang haq dan bersama-sama memperteguh gabungan itu untuk kemuliaan satu-satunya dan semua anggota.

Ketua dalam keluarga adalah orang tua yang sekaligus sebagai penguasa. Mereka bersatu dan merasa kedua-duanya terperintah oleh satu pemerintah yang tak terlihat. Pemerintah yang tak terlihat ini dirasakan oleh keduanya sebagai pemerintah yang mahas Asih yang akibatnya memberi udara yang penuh dengan cinta kasih. Dengan cinta kasih inilah orang tua dapat menghilangkan segala rasa kemurkaan diri hingga dapat menghambakan dirinya dengan seikhlas-ikhlasnya kepada keluarganya. Di sinilah letaknya peratuan diri dengan masyarakat, kawula dengan praja yang dicita-citakan oleh segala macam pendidikan masyarakat. Ini adalah sebuah kehidupan penuh cinta kasih yang menuju tertib damai selamat dan bahagia dimana bersatunya keluarga selalu diutamakan (Suci Tata Ngesti Tunggal).

Pendidikan keluarga yang dimaksud adalah yang merujuk pada gambaran di atas. Menurut Ki Hajar, alam keluarga adalah alam pendidikan permulaan bagi tiap-tiap individu. Di situlah pertama kalinya individu mengenal pendidikan dari orang tua yang berkedudukan sebagai guru (penuntun), sebagai pengajar dan sebagai pemimpin pekerjaan (pemberi contoh).

Kedua, di dalam keluarga akan terlihat bahwa anak-anak akan saling mendidik satu dengan lainnya. Ketiga, di dalam alam keluarga anak-anak berkesempatan mendidik diri sendiri karena di dalam hidup keluarga itu mereka tidak berbeda kedudukannya seperti orang hidup di dalam masyarakat, yang seringkali mengalami pelbagai kejadian hingga dengan sendirinya menimbulkan pendidikan diri sendiri.

Peran orang tua dalam pendidikan alam keluarga seperti yang digambarkan di atas pun banyak. Dalam satu hal, orang tua sebagai guru atau penuntun. Orang tua adalah makhluk pedagogis yang senantiasa melakukan usaha yang sebaik-baiknya untuk kemajuan anak-anaknya. Bahkan dikatakan apabila seorang penjahat sekalipun umumnya menutupi kejahatannya agar tidak ditiru oleh anak-anaknya.

Berikutnya adalah orang tua sebagai pengajar. Seorang pengajar mempunyai pengetahuan cukup untuk memberi pengajaran sehingga layaklah baginya untuk melakukan pengajaran karena kecakapan ilmu yang dimiliknya. Orang tua ada juga yang cakap melakukan pengajaran asal mereka memiliki pengetahuan. Ki Hajar membedakan istilah pengajaran dan pendidikan dalam keluarga. Pengajaran harus dilakukan oleh kaum pengajar yang mendapat didikan khusus. Dalam hal pengajaran peran orang tua adalah penyokong peran yang dilakukan pengajar. Tetapi, dalam hal pendidikan, justru peran orang tua lah yang dominan, sedangkan peran pengajar adalah sebagai penyokong apa yang dialkukan orang tua.

Kemudian, orang tua berperan sebagai pemberi contoh. Dalam hal ini orang tua dan guru pengajar memiliki kedudukan yang sama. Bisa saja seorang guru lebih cakap dalam memberi contoh atau teladan dan sebaliknya. Perlu dipahami bahwa teladan adalah tenaga yang bermanfaat untuk pendidikan. Kewajiban keluarga lah untuk bisa memberi keteladanan. Sehubungan dengan adanya kecenderungan pada jaman “perkhususan”, “spesialisasi”, atau “differensiasi”, yaitu jamannya orang tidak melakukan sendiri segala pekerjaan akan tetapi tiap-tiap orang mempunyai pekerjaan, kecakapan, pengetahuan dan pengalaman sendiri-sendiri, tampaklah adanya akibat yang tidak baik bagi alam pendidikan meskipun dapat pula dikatakan sebagai hal kemajuan sosial dalam dunia pendidikan. Dengan adanya differensisasi masuk dalam hidup keluarga, maka hilanglah kesempatan bagi anak-anak di dalam keluarga itu untuk mencoba kekuatan dan kecakapannya dalam mengerjakan sesuatu kepandaian. Misalnya, mereka hanya belajar ilmu yang ditekuni saja tanpa harus belajar yang lain seperti turut bekerja memperbaiki rumah, menanam tanaman, mengapur tembok, membetulkan alat dapur yang rusak, membersihkan jamban, menebang pohon, dan lainnya. Dengan kata lain, anak-anak terpaksa bertenaga hanya dalam dan dengan angan-angannya (intellektual-nya yang aktif), tetapi tidak disertai tenaga tubuh yang mengandung pendidikan budi pekerti juga. Tentu saja di sini istilah “tak dapat mencoba kekuatan dan kepandaiannya” merujuk pada konsep persediaan buat hidup kelaknya.

Lain halnya dengan anak-anak yang dididik di alam keluarga. Mereka mengalami dan mempraktekkan macam-macam tenaga yang amat banyak manfaatnya bagi pendidikan budi pekerti (giat, tahan, berani, cerdik, awas, sadar sejuk-hati, tenang-fikiran, berperasaan, estetis, dsb.)

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa alam keluarga itu bukannya pusat pendidikan individu saja akan tetapi juga suatu pusat untuk melalukan pendidikan sosial.

Sebaliknya, pendidikan yang bersandar pada aturan pengajaran dengan sistim sekolah hanyalah membolehkan intelektualisme bertumbuh subur tetapi meninggalkan apa yang disebut dengan adat kemanusiaan. Anak-anak menjadi terasing dari hidup keluarga yang sebenarnya harus menjadi “alam persediaan” atau “tangga” untuk masuk ke alam masyarakat, atau alam kemanusiaan. Mereka tidak suka mengindahkan lagi atau seringkali mengabaikan dengan terang-terangan orang tua mereka dan akhirnya sikap seperti terlihat pula pada adat kebangsaannya dan kepada rakyatnya.

Ada tiga hal penting yang dapat dicermati dari sistim sekolah, yaitu: 1) Jauhnya jarak anak dengan orang tua, 2) Ketidakmengenalan pada adat istiadat kebangsaan, dan 3) Individualisme.

Anak-anak sekarang dipacu untuk lebih menyenangi hal-hal yang berhubungan dengan alam sekolahnya sehingga keperluan keluarga biasanya dikalahkan. Bakhan pada hari Minggu pun mereka harus ke sekolah meninggalkan rumah seharian. Dengan demikian, terciptalah jarak yang jauh antara anak-anak dan orang tua sehingga mereka tidak merasakan cinta kasih orang tua secukupnya. Kemudian anak-anak tidak kenal pada adat istiadat kebangsaannya hingga hidupnya terlihat ters kaku dan dangkal. Akhirnya, mereka tidak suka melakukan cara hidup yang lazim (sosial). Mereka lebih individualis, tidak mau berbaur dengan lainnya, seakan hidup sendiri. Kalau mereka itu menjadi orang dewasa dan harus masuk ke dalam masyarakat lalu terlihatlah “mentahnya” dan “kakunya” dalam sikap dan tingkahnya.

D. Penutup
Pengertian dari pendidikan keluarga adalah proses transformasi perilaku dan sikap di dalam kelompok atau unit sosial terkecil dalam masyarakat. Sebab keluarga merupakan lingkungan budaya yang pertama dan utama dalam menanamkan norma dan mengembangkan berbagai kebiasaan dan perilaku yang penting bagi kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat.Kunci keberhasilan pendidikan dalam keluarga sebenarnya terletak pada pendidikan rohani dengan artian keagamaan seseorang.

Ki Hajar Dewantara dengan konsep pendidikan keluarga telah menempatkan posisi orang tua demikian penting untuk menyokong tumbuh kembangnya anak-anak dalam masa pendidikan mereka. Alam keluarga adalah alam pendidikan permulaan bagi tiap-tiap individu di mana pertama kalinya seseorang mengenal pendidikan dari orang tua yang berkedudukan sebagai guru (penuntun), sebagai pengajar dan sebagai pemimpin pekerjaan (pemberi contoh). Anak-anak mengalami dan mempraktekkan macam-macam tenaga yang amat banyak manfaatnya bagi pendidikan budi pekerti (giat, tahan, berani, cerdik, awas, sadar sejuk-hati, tenang-fikiran, berperasaan, estetis, dsb.) Dengan demikian dapat dikatakan bahwa alam keluarga itu bukannya pusat pendidikan individu saja akan tetapi juga suatu pusat untuk melalukan pendidikan sosial.

Akhirnya dapat dikatakan bahwa pendidikan dalam keluarga itu sendiri secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu: pembinaan akidah dan akhlak, pembinaan intelektual, dan pembinaan kepribadian dan sosial.

1 komentar:

  1. Casino Near Me | Find Casinos Near Me in Rohnert Park
    Find 10 Casinos Near Me in 여수 출장샵 Rohnert 상주 출장샵 Park, PA 천안 출장안마 near me 계룡 출장안마 in 안성 출장마사지 Rohnert Park, near Pittsburgh, Pennsylvania.

    BalasHapus